Tuesday, March 12, 2019

Saat teduh tentang Hikmat

Saat teduh hari ini mengingatkanku pada kakakku, ito hasianku.
Bagiku dia adalah teladan yang nyata bagaimana ia mengandalkan Tuhan dan berhikmat (dengar-dengaran) dengan Tuhan dalam keputusan yang ia ambil. Dia sangat menyadari hal itu, ia menyadari segala hal itu terjadi oleh karena tuntunan Tuhan saja, sebab ia selalu bergumul bersama Tuhan. Thanks God :))

Mengharapkan Penundaan

2019-03-12

Baca: Amsal 16:1-3,9

16:1Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN. 16:2Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati. 16:3Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.

16:9Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia © LAI 1974

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 17–19 ; Markus 13:1-20

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya. —Amsal 16:9

Yang benar saja? Saya sudah terlambat, tetapi tulisan di papan informasi jalan di depan saya mengandaskan harapan saya untuk tiba di kantor tepat waktu: “Ada Hambatan di Depan”.

Saya berharap segala sesuatu berjalan sesuai jadwal yang sudah saya susun, tetapi tidak memperkirakan adanya perbaikan jalan.

Dalam hal rohani, tak banyak dari kita mempersiapkan diri untuk menghadapi hal-hal yang akan menghambat perjalanan kita atau memaksa kita mengubah rencana. Namun, kalau dipikir-pikir, saya jadi ingat betapa seringnya keadaan memaksa saya menata ulang rencana hidup saya—dalam hal besar maupun kecil. Hambatan akan selalu ada.

Dalam Amsal 16, Raja Salomo menulis tentang bagaimana rencana kita terkadang tidak sama dengan rencana Allah. Alkitab versi Bahasa Indonesia Sehari-hari menuliskan ayat 1 sebagai berikut: “Manusia boleh membuat rencana, tapi Allah yang memberi keputusan.” Salomo mengulangnya di ayat 9 (BIS), dengan berkata, “Manusia dapat membuat rencana, tetapi Allah yang menentukan jalan hidupnya.” Dengan kata lain, kita dapat membayangkan apa yang seharusnya terjadi, tetapi adakalanya Allah mempunyai jalan lain untuk kita jalani.

Bagaimana saya bisa melupakan kebenaran rohani itu? Saya menyusun rencana-rencana saya, tetapi bisa jadi lupa bertanya kepada Allah apa rencana-Nya bagi saya. Saya pun frustrasi ketika sesuatu menyela dan mengubah rencana saya.

Namun, daripada khawatir, kita dapat mengikuti nasihat Salomo dengan belajar mempercayai bahwa Allah menuntun kita, langkah demi langkah, sembari terus berdoa mencari wajah-Nya, menanti tuntunan-Nya, dan mengizinkan-Nya terus mengarahkan kita. — Adam Holz


Bagaimana biasanya reaksi Anda saat menghadapi penundaan dan perubahan rencana yang tidak terduga? Ketika merasa frustrasi, apa yang akan menolong Anda berserah kepada Allah dan mempercayai Dia lebih lagi?


Ganti kekhawatiran Anda dengan kepercayaan. Allah akan menuntun Anda.

Wawasan:

Amsal bukanlah panduan langkah demi langkah yang harus diperbuat pada tiap keadaan. Wejangan tersebut memberikan kita prinsip-prinsip umum untuk hidup dengan bijak. Amsal menunjukkan bagaimana cara berinteraksi dengan sesama manusia dan cara menghindari kebebalan—atau berhenti menjadi orang bebal. Ketika kita menerapkan hikmat dari amsal, kita akan lebih bijak untuk tidak tergesa-gesa dalam membuat perencanaan. Kita belajar untuk mengatur berbagai sumber daya yang telah diberikan Tuhan. Dalam proses itu, kita bertumbuh dan terhindar dari berbagai bencana. Amsal tidak memberitahukan rencana apa yang harus kita buat, tetapi mengajar kita untuk membuat rencana yang berhikmat dan menyerahkannya kepada Tuhan (Amsal 16:3).