Sunday, August 26, 2018

Syedih

Palingggg ngga suka!!!

Memanfaatkan orang lain :(
Apalagi di ranah lingkungan gereja
Ngomongin bisnis.

Ah pengen misuh kan.

Kecuali memang sama2 menguntungkan yakan (namanya juga bisnis).

Jadi makin niat ga ke gereja itu hehehe
Banyak alasan lain, mungkin itu ego ku.

Eh aku jg kadang misuh. Yampun :(

Kelihatannya, emang blog ini kebanyakan rohani2 gitu ya.
Tapi kadang aku juga misuh2 huhuhuhu

Apalagi pas lelah.

Hmmmhhhh
Manusiawikah kalo misuh? Wkekwk sebagai bentuk pelampiasan. Wkwkwkwk "jangan ada kata2 kotor... horotoyo" :(

Patah hati hehehehe

Berawal dari patah hati memang. Perasaan suka ama orang tapi ga diijinkan hidup bersamanya (ini seperti pemikiran yg bodoh wkwk)

Tapi kalo diruntut. Sebenernya bermula dari tidak mendengarkan Tuhan dan tidak melakukan apa mau-Nya. Lebih tepatnya, mengabaikan suara Tuhan :(

Sepulang dari latihan paduan suara sekolah minggu, lagi2 dalam perjalanan pulang merenungkan hal ini.
Hidupku akan sangat sangat lebih baik jika mendengarkan suara Tuhan sedari dulu. Tidak mengabaikan suara-Nya sedari dulu. Sedari dulu. Jadi inget ke belakang, ego masih sering mendominasi. Sering tidak menurut :( banyak deny :( jadi inget masa galau soal pasangan hidup gara2 gue ngga peka (pantes jomblo teros).

Kemudian dari dalam hati, rindu untuk benar-benar ingin terus dengar-dengaran dengan suara Tuhan. (ya Tuhan tolong aku. Yg baca ini, mohon doanya ya :)
Dengan menurut apa yg Tuhan mau, itu mendamaikan hati banget. Teringat di instagram ada akun yang upload postingan atlet bulutangkis tampan, Jonatan Christie. Di akun tersebut dibilang bahwa saat diwawancarai media, si Jojo langsung bilang Puji Tuhan, semua karena campur tangan Tuhan. Dan ada ayat yg menyatakan dari Amsal "Akuilah Dia dalam lakumu maka Ia akan meluruskan jalanmu."
Thats the truth. Mutlak. Ga usah dipertanyakan lagi, bahwa menyertakan Tuhan (termasuk mendengarkan Tuhan) itu membuat kita berhasil.

Kalo inget yg dulu2 emang banyak yg kelam :( tapi tangan Tuhan selalu terbuka untuk anakNya yang mau datang kepadaNya :)

Jadi move on gue. Move on dari masa lalu yg membuat diri kurang berkembang.

#catatansimbe

Monday, August 20, 2018

Pelayanan

Beberapa hari ini labil dalam pelayanan.

Jadi teringat, trueeeee bahwa talenta atau karunia kalo ga dipake ya ga berkembang atau bahkan hilang huwaaaa.

Labil kok ga udah udah mbe!

Ibu bilang sing penting koe ngono kui kanggo Gusti rasah ndelok wong2e.

: )

Sometimes hard for me. Jadi aku lebih baik pergi sejenak menenangkan hati jiwa pikiran XD daripada nambah ra nggenah.

Pernah yaaaa. Aku udah niat mau resign dari pelayanan di situ, tetiba ada seorang kakak yg chat dan bilang untuk tetap pelayanan supaya "gak kering".
Dan ijin mau resign ga dibolehin.

Kembali lagi teringat kenapa Tuhan ga ngijinin gua resign?.
Dalam perjalanan saat berkendara, gua ingat saat pertama kali (dulu banget) meminta kepada Tuhan, supaya aku bisa DO SOMETHING FOR GOD. Aku pikir aku tak mampu untuk melakukan sesuatu kepada Tuhan waktu itu. KARENA AKU GAK PUNYA SESUATU ATAU TALENTA ATAU APAPUN ITU YG BISA KUBERIKAN KEPADA TUHAN...inget banget ini, ampe nangis pas di meja belajar di rumah pertama pas di Kalasan. Seiring proses yang Ia kerjakan dalam hidupku, ku sadari ternyata Tuhan sudah mengabulkan permintaanku yaitu untuk melayani-Nya. Sampai saat ini, itu awesome!

Cuma labilnya, lingkungan itu nggak ngerti lagi aku ~~

Hmmm thanks God

Upah

Semakin tau apa artinya,ketika Yesus berkata
"Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya."

Utk orang sombong, yang suka menghina, mengejek dg serius, dan semacamnya.

Menabur apa yang dituai

Ajarku untuk lambok, ya Gusti

Friday, August 10, 2018

Sedih?? Meratap? Kecewa? Wajar. Saat kita "jujur" di hadapan Allah

Ratapan Penuh Pengharapan

2018-08-10

Baca: Ratapan 3:49-58

3:49Air mataku terus-menerus bercucuran, dengan tak henti-hentinya, 3:50sampai TUHAN memandang dari atas dan melihat dari sorga. 3:51Mataku terasa pedih oleh sebab keadaan puteri-puteri kotaku. 3:52Seperti burung aku diburu-buru oleh mereka yang menjadi seteruku tanpa sebab. 3:53Mereka melemparkan aku hidup-hidup dalam lobang, melontari aku dengan batu. 3:54Air membanjir di atas kepalaku, kusangka: 'Binasa aku!' 3:55'Ya TUHAN, aku memanggil nama-Mu dari dasar lobang yang dalam. 3:56Engkau mendengar suaraku! Janganlah Kaututupi telinga-Mu terhadap kesahku dan teriak tolongku! 3:57Engkau dekat tatkala aku memanggil-Mu, Engkau berfirman: Jangan takut!' 3:58'Ya Tuhan, Engkau telah memperjuangkan perkaraku, Engkau telah menyelamatkan hidupku.

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia © LAI 1974

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 79–80 ; Roma 11:1-18

Ya Tuhan, aku memanggil nama-Mu dari dasar lobang yang dalam. —Ratapan 3:55

Mengunjungi Taman Nasional Clifton Heritage di Nassau, Bahama, membawa seseorang teringat pada suatu masa yang tragis dalam sejarah. Di sana, di tepi pantai, terdapat tangga-tangga batu yang mengarah ke tebing. Dahulu, pada abad ke-18, para budak meninggalkan keluarga mereka dan dibawa ke Bahama dengan kapal. Mendaki tangga-tangga batu itu menjadi permulaan dari hidup yang berat dan perlakuan tidak manusiawi yang akan mereka terima di sepanjang hidup mereka. Kini di puncak tebing terdapat semacam tugu-tugu peringatan untuk mengenang para budak itu. Pohon-pohon aras telah diukir menjadi figur-figur perempuan yang menatap laut ke arah tanah airnya dan anggota keluarga yang telah mereka tinggalkan. Setiap patung itu diparut hingga meninggalkan bekas seperti luka cambuk dari kapten penjaga budak.

Patung-patung perempuan yang meratapi penderitaan mereka itu mengingatkan saya tentang pentingnya kita menyadari dan meratapi ketidakadilan serta kerusakan yang terjadi di dunia. Meratap bukan karena kita kehilangan pengharapan, melainkan karena kita jujur di hadapan Allah. Meratap haruslah menjadi sikap yang lazim bagi orang Kristen; sekitar empat puluh persen isi kitab Mazmur merupakan mazmur ratapan, dan dalam kitab Ratapan, umat Allah berseru kepada-Nya setelah kota mereka dihancurkan oleh pasukan musuh (3:55).

Ratapan merupakan respons yang wajar terhadap realitas penderitaan, di mana kita melibatkan Allah di tengah kesakitan dan pergumulan kita. Pada akhirnya, ratapan itu dipenuhi pengharapan: ketika kita meratapi sesuatu yang tidak benar, kita mengajak diri kita sendiri dan orang lain untuk aktif mengupayakan perubahan.

Itulah mengapa taman penuh patung di Nassau itu dinamai “Genesis” (Kejadian atau Permulaan)—tempat ratapan yang kini dikenal sebagai tempat permulaan yang baru. — Amy Peterson

 


Kita dapat mempercayai Allah untuk memunculkan sesuatu yang baru dari masa-masa ratapan kita.

Wawasan:

Sudah 40 tahun lebih Nabi Yeremia bernubuat kepada Yehuda yang tegar tengkuk dan tidak percaya (627–580 SM). Dalam lima “ratapan perkabungan” yang emosional, ia menulis sebagai seorang saksi mata, meratapi hancur leburnya Yerusalem dan Bait Suci, serta penduduknya yang diangkut ke Babel secara paksa. Ia juga menyebutkan alasan mengapa Allah sampai memakai orang Babel untuk mendisiplinkan umat-Nya yang menyembah berhala (Ratapan 1:5-8; lihat 1 Raja-Raja 9:6-9; Yeremia 2:11-13, 18:15-17).

Selama 2 tahun, pasukan Babel mengepung Yerusalem. Yeremia menyaksikan kengerian perang secara langsung (2 Raja-raja 25:1-4; Yeremia 52:12-27; Ratapan 2:20; 4:10). Namun, di tengah keputusasaan, ia juga menulis tentang pengharapan (3:21-33) dan pemulihan yang akan datang (5:19-22). Yeremia mengingatkan orang Yahudi bahwa Tuhan, yang telah menghakimi Yehuda dengan adil karena dosa mereka, adalah juga Tuhan sumber pengharapan (3:21,24-25), berbelas kasih (ay.22), setia (ay.23), serta memberikan keselamatan (ay.26). Yeremia memanggil umat untuk bertobat dan percaya pada kebaikan Allah (ay.25-26; 5:21).

“Dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan,” kata Rasul Paulus (2 Korintus 7:10). Sudahkah Anda mengalaminya?

Santapanrohani.org