Monday, December 10, 2018

Yeobo! (bahasa korea nih, search artinya gih wkw)

Bersyukur untuk yeobo!
Doi melengkapi aku banget. Saya meyakini bahwa saat memutuskan menikah dengannya, itu dah diatur Tuhan. (amin ya Lord). Walaupun saat membuat keputusan untuk menikah di tahun lalu, sebenernya aku masih takut nikah, takut belum siap, dll. Tapi seperti flow aja gitu.

Banyak kejutan yang Tuhan berikan melalui kehadirannya dalam hidupku in every-single-day.

Wohooo!

Mengerti di saat aku lelah, dan dia menggantikan sejenak pekerjaanku.
Dia juga terlengkapi. Aman ya yeobo!

Semoga segera Tuhan kasih kebahagiaan lebih, yang membuat sukacita kami dalam Tuhan semakin melimpah 😆

Thanks my family, thanks my parents, my brother!

Monday, September 17, 2018

Ito hasian #3

"Semua orang silakan membenciku. Tapi aku ngerti, Tuhan ada di sini." (sambil nabok dada).

Aku bisa sejauh ini dalam kepercayaan bisa jadi karena keluargaku juga, ya bapak ibu dan ito hasian kakaku.

Sekarang aku menyadari bahwa aku dulu seperti Israel. Bebal. Dikasi tau berulang kali tapi tetap ga mendengarkan. Padahal "hajaran" mereka itu baik. Tapi Tuhan masih tetap mengasihiku.

Masih ada waktu untuk lebih baik, sekalipun lingkungan dunia itu keras kayak batu. Ah singa (eh dek Yan misuh).

Kalo kaka gw disakiti, gw merasa sakit n sedih juga :( tapi gw nahan nangis dalam perjalanan mobil malam ini.
Kalo kaka gw marah sama gw, gw sedih jg tapi mengampuni akhirnya karena aku tau bahea aku dimarahi atau dihajar itu baik.

Smg Tuhan beserta kita selalu.

Sunday, August 26, 2018

Syedih

Palingggg ngga suka!!!

Memanfaatkan orang lain :(
Apalagi di ranah lingkungan gereja
Ngomongin bisnis.

Ah pengen misuh kan.

Kecuali memang sama2 menguntungkan yakan (namanya juga bisnis).

Jadi makin niat ga ke gereja itu hehehe
Banyak alasan lain, mungkin itu ego ku.

Eh aku jg kadang misuh. Yampun :(

Kelihatannya, emang blog ini kebanyakan rohani2 gitu ya.
Tapi kadang aku juga misuh2 huhuhuhu

Apalagi pas lelah.

Hmmmhhhh
Manusiawikah kalo misuh? Wkekwk sebagai bentuk pelampiasan. Wkwkwkwk "jangan ada kata2 kotor... horotoyo" :(

Patah hati hehehehe

Berawal dari patah hati memang. Perasaan suka ama orang tapi ga diijinkan hidup bersamanya (ini seperti pemikiran yg bodoh wkwk)

Tapi kalo diruntut. Sebenernya bermula dari tidak mendengarkan Tuhan dan tidak melakukan apa mau-Nya. Lebih tepatnya, mengabaikan suara Tuhan :(

Sepulang dari latihan paduan suara sekolah minggu, lagi2 dalam perjalanan pulang merenungkan hal ini.
Hidupku akan sangat sangat lebih baik jika mendengarkan suara Tuhan sedari dulu. Tidak mengabaikan suara-Nya sedari dulu. Sedari dulu. Jadi inget ke belakang, ego masih sering mendominasi. Sering tidak menurut :( banyak deny :( jadi inget masa galau soal pasangan hidup gara2 gue ngga peka (pantes jomblo teros).

Kemudian dari dalam hati, rindu untuk benar-benar ingin terus dengar-dengaran dengan suara Tuhan. (ya Tuhan tolong aku. Yg baca ini, mohon doanya ya :)
Dengan menurut apa yg Tuhan mau, itu mendamaikan hati banget. Teringat di instagram ada akun yang upload postingan atlet bulutangkis tampan, Jonatan Christie. Di akun tersebut dibilang bahwa saat diwawancarai media, si Jojo langsung bilang Puji Tuhan, semua karena campur tangan Tuhan. Dan ada ayat yg menyatakan dari Amsal "Akuilah Dia dalam lakumu maka Ia akan meluruskan jalanmu."
Thats the truth. Mutlak. Ga usah dipertanyakan lagi, bahwa menyertakan Tuhan (termasuk mendengarkan Tuhan) itu membuat kita berhasil.

Kalo inget yg dulu2 emang banyak yg kelam :( tapi tangan Tuhan selalu terbuka untuk anakNya yang mau datang kepadaNya :)

Jadi move on gue. Move on dari masa lalu yg membuat diri kurang berkembang.

#catatansimbe

Monday, August 20, 2018

Pelayanan

Beberapa hari ini labil dalam pelayanan.

Jadi teringat, trueeeee bahwa talenta atau karunia kalo ga dipake ya ga berkembang atau bahkan hilang huwaaaa.

Labil kok ga udah udah mbe!

Ibu bilang sing penting koe ngono kui kanggo Gusti rasah ndelok wong2e.

: )

Sometimes hard for me. Jadi aku lebih baik pergi sejenak menenangkan hati jiwa pikiran XD daripada nambah ra nggenah.

Pernah yaaaa. Aku udah niat mau resign dari pelayanan di situ, tetiba ada seorang kakak yg chat dan bilang untuk tetap pelayanan supaya "gak kering".
Dan ijin mau resign ga dibolehin.

Kembali lagi teringat kenapa Tuhan ga ngijinin gua resign?.
Dalam perjalanan saat berkendara, gua ingat saat pertama kali (dulu banget) meminta kepada Tuhan, supaya aku bisa DO SOMETHING FOR GOD. Aku pikir aku tak mampu untuk melakukan sesuatu kepada Tuhan waktu itu. KARENA AKU GAK PUNYA SESUATU ATAU TALENTA ATAU APAPUN ITU YG BISA KUBERIKAN KEPADA TUHAN...inget banget ini, ampe nangis pas di meja belajar di rumah pertama pas di Kalasan. Seiring proses yang Ia kerjakan dalam hidupku, ku sadari ternyata Tuhan sudah mengabulkan permintaanku yaitu untuk melayani-Nya. Sampai saat ini, itu awesome!

Cuma labilnya, lingkungan itu nggak ngerti lagi aku ~~

Hmmm thanks God

Upah

Semakin tau apa artinya,ketika Yesus berkata
"Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya."

Utk orang sombong, yang suka menghina, mengejek dg serius, dan semacamnya.

Menabur apa yang dituai

Ajarku untuk lambok, ya Gusti

Friday, August 10, 2018

Sedih?? Meratap? Kecewa? Wajar. Saat kita "jujur" di hadapan Allah

Ratapan Penuh Pengharapan

2018-08-10

Baca: Ratapan 3:49-58

3:49Air mataku terus-menerus bercucuran, dengan tak henti-hentinya, 3:50sampai TUHAN memandang dari atas dan melihat dari sorga. 3:51Mataku terasa pedih oleh sebab keadaan puteri-puteri kotaku. 3:52Seperti burung aku diburu-buru oleh mereka yang menjadi seteruku tanpa sebab. 3:53Mereka melemparkan aku hidup-hidup dalam lobang, melontari aku dengan batu. 3:54Air membanjir di atas kepalaku, kusangka: 'Binasa aku!' 3:55'Ya TUHAN, aku memanggil nama-Mu dari dasar lobang yang dalam. 3:56Engkau mendengar suaraku! Janganlah Kaututupi telinga-Mu terhadap kesahku dan teriak tolongku! 3:57Engkau dekat tatkala aku memanggil-Mu, Engkau berfirman: Jangan takut!' 3:58'Ya Tuhan, Engkau telah memperjuangkan perkaraku, Engkau telah menyelamatkan hidupku.

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia © LAI 1974

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 79–80 ; Roma 11:1-18

Ya Tuhan, aku memanggil nama-Mu dari dasar lobang yang dalam. —Ratapan 3:55

Mengunjungi Taman Nasional Clifton Heritage di Nassau, Bahama, membawa seseorang teringat pada suatu masa yang tragis dalam sejarah. Di sana, di tepi pantai, terdapat tangga-tangga batu yang mengarah ke tebing. Dahulu, pada abad ke-18, para budak meninggalkan keluarga mereka dan dibawa ke Bahama dengan kapal. Mendaki tangga-tangga batu itu menjadi permulaan dari hidup yang berat dan perlakuan tidak manusiawi yang akan mereka terima di sepanjang hidup mereka. Kini di puncak tebing terdapat semacam tugu-tugu peringatan untuk mengenang para budak itu. Pohon-pohon aras telah diukir menjadi figur-figur perempuan yang menatap laut ke arah tanah airnya dan anggota keluarga yang telah mereka tinggalkan. Setiap patung itu diparut hingga meninggalkan bekas seperti luka cambuk dari kapten penjaga budak.

Patung-patung perempuan yang meratapi penderitaan mereka itu mengingatkan saya tentang pentingnya kita menyadari dan meratapi ketidakadilan serta kerusakan yang terjadi di dunia. Meratap bukan karena kita kehilangan pengharapan, melainkan karena kita jujur di hadapan Allah. Meratap haruslah menjadi sikap yang lazim bagi orang Kristen; sekitar empat puluh persen isi kitab Mazmur merupakan mazmur ratapan, dan dalam kitab Ratapan, umat Allah berseru kepada-Nya setelah kota mereka dihancurkan oleh pasukan musuh (3:55).

Ratapan merupakan respons yang wajar terhadap realitas penderitaan, di mana kita melibatkan Allah di tengah kesakitan dan pergumulan kita. Pada akhirnya, ratapan itu dipenuhi pengharapan: ketika kita meratapi sesuatu yang tidak benar, kita mengajak diri kita sendiri dan orang lain untuk aktif mengupayakan perubahan.

Itulah mengapa taman penuh patung di Nassau itu dinamai “Genesis” (Kejadian atau Permulaan)—tempat ratapan yang kini dikenal sebagai tempat permulaan yang baru. — Amy Peterson

 


Kita dapat mempercayai Allah untuk memunculkan sesuatu yang baru dari masa-masa ratapan kita.

Wawasan:

Sudah 40 tahun lebih Nabi Yeremia bernubuat kepada Yehuda yang tegar tengkuk dan tidak percaya (627–580 SM). Dalam lima “ratapan perkabungan” yang emosional, ia menulis sebagai seorang saksi mata, meratapi hancur leburnya Yerusalem dan Bait Suci, serta penduduknya yang diangkut ke Babel secara paksa. Ia juga menyebutkan alasan mengapa Allah sampai memakai orang Babel untuk mendisiplinkan umat-Nya yang menyembah berhala (Ratapan 1:5-8; lihat 1 Raja-Raja 9:6-9; Yeremia 2:11-13, 18:15-17).

Selama 2 tahun, pasukan Babel mengepung Yerusalem. Yeremia menyaksikan kengerian perang secara langsung (2 Raja-raja 25:1-4; Yeremia 52:12-27; Ratapan 2:20; 4:10). Namun, di tengah keputusasaan, ia juga menulis tentang pengharapan (3:21-33) dan pemulihan yang akan datang (5:19-22). Yeremia mengingatkan orang Yahudi bahwa Tuhan, yang telah menghakimi Yehuda dengan adil karena dosa mereka, adalah juga Tuhan sumber pengharapan (3:21,24-25), berbelas kasih (ay.22), setia (ay.23), serta memberikan keselamatan (ay.26). Yeremia memanggil umat untuk bertobat dan percaya pada kebaikan Allah (ay.25-26; 5:21).

“Dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan,” kata Rasul Paulus (2 Korintus 7:10). Sudahkah Anda mengalaminya?

Santapanrohani.org

Thursday, February 22, 2018

Hmmmmmmm

God does not guide those who want to run their own life. He only guides those who admit their need of His direction and rely on His wisdom (Winkie Pratney).

Tuhan tidak akan menuntun mereka yang ingin mengatur kehidupan mereka sendiri. Dia hanya menuntun mereka yang mengakui akan kebutuhan mereka akan arahanNya dan bersandar akan hikmatNya (Winkie Pratney).

Met pagi

Setiap hari, sejauh dari awal tahun ini sampai hari ini, dikirimi quote n truth dr saudari seiman Christin hehe

Dan.....
Rabu 21 Februari 2018 lalu
Mendapat sesuatu dari Firman...melalui hamba-Nya, yaitu:

Kita kembali kepada Allah tidak membawa apa-apa, tapi roh dan jiwa itu yang kekal. Tuhan Yesus menilai bagaimana "kemenurutan" kita kepada-Nya, pengandalan kita kepada-Nya. Bukan dr banyaknya harta atau apapun yg kita miliki secara duniawi di dunia ini.

*Harta adalah titipan bonus dari Allah. Ketika Ia percaya pada kita bahwa.kita.dapat bertanggung jawab atas harta,.waktu, dan sebagainya.

Huhuhu
Dan akhir2 ini aku merenungkan bahwa aku masih sangat kurang dalam hal tsb.

Doa:
Ya Tuhan, ampuni aku. Aku mengakui bahwa aku sangat kurang dalam hal apa yg Kau kehendaki. Dan mengecewakan-Mu atau sesama. Ajarku dalam hari-hari yang akan datang untuk bertanggung jawab dalam waktu, harta, talenta yang Kau berikan. Berhikmat dan hati2 dalam melakukan semuanya. Biarlah pengandalan dan kemenurutan.serta hikmat itulah yang mendorongku.
Thanks God. Amien

Wednesday, February 14, 2018

Saat aku ingin mengundurkan diri dari pelayanan pada "waktu ini" hmm

Mengikuti Pimpinan-Nya

2018-02-15

Baca: 1 Raja-Raja 19:19-21

19:19Setelah Elia pergi dari sana, ia bertemu dengan Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, sedang ia sendiri mengemudikan yang kedua belas. Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya. 19:20Lalu Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya: 'Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau.' Jawabnya kepadanya: 'Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu.' 19:21Lalu berbaliklah ia dari pada Elia, ia mengambil pasangan lembu itu, menyembelihnya dan memasak dagingnya dengan bajak lembu itu sebagai kayu api; ia memberikan daging itu kepada orang-orangnya, kemudian makanlah mereka. Sesudah itu bersiaplah ia, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya.

Teks Alkitab Terjemahan Baru Indonesia © LAI 1974

Bacaan Alkitab Setahun: Imamat 17–18 ; Matius 27:27-50

Sesudah itu bersiaplah [Elisa], lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya. —1 Raja-Raja 19:21

Saat masih anak-anak, saya selalu menantikan kebaktian hari Minggu sore di gereja kami. Ibadah Minggu sore terasa sangat menyenangkan, karena mimbar gereja kami sering diisi oleh para misionaris dan pembicara tamu lainnya. Isi khotbah mereka menggugah iman saya karena kerelaan mereka untuk meninggalkan keluarga dan sahabat—dan ada juga yang meninggalkan rumah, harta, dan karier—untuk pergi ke tempat-tempat yang asing dan terkadang berbahaya demi melayani Allah.

Seperti para misionaris tersebut, Elisa meninggalkan banyak hal demi mengikuti Allah (1Raj. 19:19-21). Sebelum Allah memanggil Elisa ke dalam pelayanan melalui Nabi Elia, tidak banyak yang kita ketahui tentang Elisa kecuali bahwa ia adalah seorang petani. Ketika menemui Elisa yang sedang membajak di ladang, Nabi Elia memakaikan jubahnya ke bahu Elisa (lambang dari peran Elia sebagai nabi) dan memanggil Elisa untuk mengikutnya. Setelah mengajukan satu permintaan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada ayah dan ibunya, Elisa pun mengorbankan lembunya dan membakar bajaknya, pamit kepada orangtuanya, lalu mengikut Elia.

Meskipun tidak banyak dari kita yang dipanggil untuk meninggalkan keluarga dan sahabat untuk melayani Allah sebagai misionaris penuh waktu, Allah menghendaki kita semua untuk mengikut Dia dan “tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan bagi [kita] dan dalam keadaan seperti waktu [kita] dipanggil Allah” (1Kor. 7:17). Seperti yang sering saya alami, melayani Allah bisa terasa menyenangkan sekaligus menantang, di mana pun kita berada—sekalipun kita tidak pergi ke tempat-tempat yang jauh. — Alyson Kieda


Ya Tuhan, perlengkapi kami untuk menjadi utusan-Mu di mana pun Engkau menempatkan kami—dekat ataupun jauh, di negeri kami atau di negara lain.


Allah akan menunjukkan kepada kita cara yang terbaik untuk melayani-Nya di mana pun kita berada.

Wawasan:

Elia digantikan oleh Elisa dalam melayani generasinya. Pola semacam ini berulang kali kita temukan dalam Alkitab. Menjelang akhir kitab Keluaran, pelayanan Musa—pemimpin dan pemberi hukum di Israel—digantikan oleh Yosua, yang telah mendampingi Musa selama 40 tahun. Berabad-abad kemudian, Yesus hadir menggantikan Yohanes Pembaptis (“Elia” kedua menurut Maleakhi 4:5 dan Matius 11:14) untuk memberitakan Injil kerajaan Allah.

Menariknya, pola regenerasi ini memiliki kesamaan dalam hal nama. Dalam Alkitab, nama kerap mengindikasikan sesuatu yang penting. Nama dari setiap pemimpin (Elisa, Yosua, dan Yesus) yang menggantikan pendahulunya (Elia, Musa, Yohanes) memiliki arti yang sama, yaitu “Tuhan menyelamatkan”.

Inilah yang selalu menjadi keyakinan umat Allah dari tahun ke tahun. Allah menyelamatkan kita oleh anugerah-Nya dan memampukan kita oleh Roh-Nya untuk menaati Dia dan melayani sesama di mana pun kita ditempatkan.

Di manakah Allah memanggil Anda untuk melayani?



_________


Hmmmm

Niat e pingin berhenti, hibernasi dari pelayanan :( ya kali, ya mungkin... jika kehadiranku atau ketidakhadiranku menjadi batu sandungan.

Palambok jo ate-ateku

Friday, February 2, 2018

Part1 : Renungan di hari ulang tahun H+1

Dear Dwi Cahyani,

Selamat ulang tahun dari Our Daily Bread Ministries!

Kiranya hari ini Anda menikmati sukacita bersama orang-orang terkasih dan menerima iman, kasih, dan pengharapan yang dikaruniakan Allah. Kita bersyukur kepada-Nya untuk iman kita, kasih-Nya yang rela memberikan Anak-Nya yang tunggal, dan pengharapan yang dianugerahkan Kristus kepada kita, sehingga kita dapat bersukacita setiap hari sambil menantikan kehidupan kekal bersama-Nya kelak.

Untuk merayakan hari yang istimewa ini, kami telah memilih satu renungan khusus dari Our Daily Bread/Santapan Rohani bagi Anda. Kiranya renungan ini memberkati dan menambah sukacita Anda.

Tuhan memberkati,

Daniel Wong
Asisten Wakil Presiden
Wilayah Asia Tenggara

Sekeping Jigsaw

Baca:
1 Korintus 12:12-27

Pada perayaan hari ulang tahunnya, sang tuan rumah mengubah tradisi dengan cara memberikan bingkisan kepada setiap tamu yang datang ke pestanya. Kriste memberi suatu pesan pribadi kepada kami masing-masing untuk menyatakan betapa berartinya kami baginya. Pesan itu juga disertai kata-kata yang menguatkan tentang bagaimana Allah menjadikan kami sebagai pribadi yang dikehendaki-Nya. Di setiap pesan dilampiri sekeping jigsaw untuk mengingatkan bahwa masing-masing kami itu unik dan berarti dalam rencana Allah.

Pengalaman itu membuat saya membaca 1 Korintus 12 dengan pemahaman yang baru. Paulus membandingkan gereja yang adalah tubuh Kristus dengan tubuh manusia. Sebagaimana tubuh kita memiliki tangan, kaki, mata, dan telinga, semuanya merupakan bagian dari satu tubuh. Tidak ada pengikut Kristus dapat menyatakan dirinya terlepas dari tubuh itu, juga tidak ada satu bagian tubuh yang dapat mengatakan bahwa bagian tubuh lainnya tidak diperlukan (ay.12-17). “Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya” (ay.18).

Mudah bagi kita untuk merasa tidak sepenting orang lain yang berbeda karunia dan yang mungkin lebih menonjol daripada kita. Namun, Tuhan ingin supaya kita melihat diri sendiri sebagaimana Dia melihat kita—sebagai ciptaan yang unik dan sangat berharga bagi-Nya.

Anda adalah sekeping jigsaw dari sebuah gambar besar yang tidak akan lengkap tanpa kehadiran Anda. Allah telah memberi Anda karunia untuk menjadi suatu bagian yang penting dari tubuh Kristus demi kemuliaan-Nya.

Tuhan, tolong aku untuk tak membandingkan diriku
dengan orang lain dalam keluarga-Mu. Kiranya aku
berusaha menjadi pribadi yang Engkau kehendaki. Tolong
aku untuk menggunakan segalanya yang telah Engkau
berikan bagiku untuk memberkati orang lain hari ini.

Hidup Anda adalah pemberian Allah bagi Anda; persembahkanlah kembali hidup Anda kepada Allah.

Wednesday, January 10, 2018

Ito hasian #2

Terlalu banyak cerita tentangnya. Hitam dan putih, iya lah namanya juga manusia h3h3h3

Salah satu hal yg saya alami ketika dia mulai berbagi hidup di usia dewasa ini adalah. . .
"Bagaimana Tuhan secara pribadi memanggilnya ketika ia di perantauan."

Pertama kali mendengarnya, merinding. Dan 'It was God.'

Saat melakukan pekerjaan di tempat kerja dan sendirian. Tetiba ada suara entah dari mana, mengatakan (kurang lebih begini)," Kamu sudah lama pergi meninggalkan-Ku. Pulanglah."

Di perantauan mungkin bisa hampir setengah hari, ke gereja kerasulan baru yang terdekat. Maka, ia beribadah di gereja twrdekat untuk mendengarkan Firman. Kalo menyanyi, pake bahasa daerah wkwk mana paham.

Singkat cerita, dia pulang dari perantauan karena panggilan itu.
Dari ini saya melihat nilai "KEMENURUTAN" sekalipun tidak tau sama sekali apa yang hendak ia lakukan di tanah Jogja kecuali impian yang ia bawa. Ia hanya menurut dan merasa jauh.dari Tuhan. Sekalipun juga, tiga bos nya memintanya untuk stay di perantauan sampai mau untuk menyekolahkan dia. Dari sini saya melihat, waow. Ia di proses sedemikian rupa hingga menjadi orang yang seperti sekarang ini, orang yang tegas, orang yang mau menyuarakan kebenaran, orang yang menggebu-gebu saat sharing tentang passion-nya dalam wirausaha.

......
Di mobil, di rumah, di tempat makan,  di mana pun, saya sering mendengar dia berbicara tentang Tuhan, karunia-Nya, dan kebaikan-Nya.

Dia semacam kakak KTB, semacam pemangku jawatan, semacam orang yang memberkatiku dan (mungkin) orang lain.
Bahkan ketika aku ikut dalam usahanya, ia begitu sabar mengajariku. Dan tak segan-segan menegurku ketika aku memang benar-benar salah.
Saya bersyukur sekalipun kadang memang menjengkelkan hu uwh.
Bagi sebagian orang, mungkin menganggap aku terlalu di setir olehnya. Memang betul TAPI aku menyadari itu adalah PROSES bagi hidup saya. Saya bersyukur.di setir untuk keluar dr zona nyaman, sy disetir olehnya untuk kembali kepada Tuhan dan bersyukur kepada Tuhan.

....

Dalam semua itu, sepertinya setiap orang tetap memiliki duri dalam daging. Hehehe. Supaya setiap orang dapat menyadari bahwa hidup itu adalah semata-mata karena anugerah dan kasih Allah.

....

Yah itusemua sedikit sharingku ttg ito hasian, yg adalah kakakku :3

Yg baik diambil, yg jelek dibuang.

Ito hasian itu adalah kakakku hehehehe